Rabu, 12 September 2018

RASULULLAH SAW SAKIT

Pada saat-saat itulah sakit Rasulullahs aw semakin bertambah berat, sehingga Usamah menghentikan pasukan di tempat perkemahan tersebut seraya menantikan apa yang akan diputuskan oleh Allah dalam masalah ini.
Permulaan sakit Rasulullah saw adalah sebagaimana diriwayatkan oelh Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa‘ad dari Abu Muwahibah, mantan bukdan yang dimerdekakan oleh Rasulullahs aw, ia berkata : Rasulullah saw pernah mengutuskku pad atengah malam seraya berkata : Wahai Abu Muwaihibah, aku diperintahkan untuk memintakan ampunan bagi penghuni (kuburan) Baqi‘ ini, maka marilah pergi bersamamu. Kemudian aku pergi bersama beliau.Ketika kami sampai di tempat mereka, beliau mengucapkan :“Assalamu‘alaikum ya ahlal maqabir! Semoga diringankan (siksa) atas kalian sebagaimana apa yang dilakukan manusia, Berbagai fitnah datang seperi gumpalan-gumpalan malam ynag gelap, silih berganti ynag akhir lebih buruk dari yang pertama.“
Kemudian beliau menghampiriku seraya bersabda : „Sesungguhnya aku diberi kunci-kunci kekayaan dunia dan keabadian di dalamnya, lalu au disuruh memilih antara hal tersebut atau bertemu Rabb-ku dan sorga.“ Aku berkata kepada beliau : Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, ambillah kunci-kunci dunia, dan keabadian di dalamnya kemudian surga. Nabi saw bersabda :“Demi Allah tidak wahai Abu Muwahibah! Aku telah memilih bertemu dengan Rab-ku dan sorga.“ Kemudian Nabi saw memintakan ampunan untuk penghuni Baqi’‘dan meninggalkan tempat. Sejak itulah Rasulullah saw mulai meraskan sakit yang kemudian beliau meninggla dunia.
Pertama kali Rasulullah saw merasakan sakit keras di bagian kepalanya. Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa sepulangnya dari Baqi‘, Nabi saw disambut oleh Aisyah ra seraya berkata :“Aduh kepalaku sakit sekali! Lalu Nabi saw berkata kepada Aisyah : Demi Allah wahai Aisyah, kepalaku sendiri terasa sakit. Sakit di bagian kepala itu semakin bertambah berat sehingga menimbulkan demam yang sangat serius.
Permulaan sakit ini terjadap pada akhir-akhir bulan Shafar tahun ke 11 Hjri. Dalam pada itu Aisyah ra senantiasa menjampirnya dengan sejumlah ayat-ayat alQuran yang berisi mu‘awwidzat (permintaan perlindungan kepada Allah).
Bukhari dan Muslim mneriwayatkan dari Urwah bahwa Aisyah ra mengabarkan , sesungguhnya Rasulullah saw apabila merasakan sakit beliau meniup dirinya sendiri dengan mu‘awwidzat dan mengusapkan dengan tangannya. Dan ketika mengalami sakit kepala ynag kemudian disusul kematiannya, itu akulah yang meniup dengan mu‘awwidzat yang biasa digunakannya lalu aku usap dengn tangan Nabi saw.
Para istri beliau memahami keinginan Nabi saw untuk dirawat di rumah Aisyah, karena mereka tahu Nabi saw santa mencintainya dan merasa tenteram dirawat olehnya. Dengan ijin dari para istri beliau akhirnya Nabi saw dipindahkan ke rumah Aisyah dan rumah Maimunah dengan dipapah oleh al Fadhal dan Ali bin Abi Thalib.
Di rumah Aisyah ra sakit Rasululah saw semakin bertambah keras. Mengetahui para sahabatnya sudah mulai cemas dan bersedih karena dirinya maka Nabi saw bersabda : „Siramkanlah aku dengan tujuh qirbah air karena aku ingin keluar berbicara kepada mereka.“ Aisyah ra berkata :“Kemudian aku dudukkan Nabi saw di tempat mandi lalu kami guyur dengna tujuh qirbah air tersebut sampai beliau mengisyaratkan dengan tangannya : cukup“ Kemudian beliau keluar dan berkhutbah kepada mereka. Nabi saw keluar dengan kepala terasa pusing lalu duduk di atas mimbar. Pertama-tama Nabi saw berdo‘a dan memintakan ampunan untuk para Mujahidin Uhud, lalu bersabda :
„Seorang hamba diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kekayaan dunia atua apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba itu memilih apa yang ada disisi-Nya.“ Serta merta Abu Bakar menangis (karena mengetahui apa yang dimaksud Nabi saw) seraya berkata dengan suara keras : Kami tebus engkau dengan bapak-bapak dan ibu-ibu kami. Kemudian Nabi saw bersabda :
„Tunggu sebentar wahai Abu Bakar! Wahai manusia sesungguhnya orang yang paling bermurah hati kepadaku dalam hartanya dan persahabatannya ialah Abu Bakar. Seandainya aku hendak mengangkat orang sebagai khalil (teman kesayangan) maka Abu Bakarlah khalilku, akan tetapi persaudaraan ynag sejati adalah persaudaraan Islam. Tidak boleh ada Khaukah (lorong) di masjid kecuali Khaukah (lorong) Abu Bakar. Sesungguhnya aku adalah tanda pemberi petunjuk bagi kalian dan aku menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sesungguhnya sekarang ini aku melihat telagaku. Sesungguhnya aku telah diberi kunci-kunci dunia. Demi Allah , aku khawatir kalian akan menjadi musyrik sesudahku tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba memperebutkan dunia.
Kemudian Rasulullah saw kembali ke rumah dan sakitnya bertambah berat. Aisyah ra berkata : Pada waktu sakit, Rasulullah saw pernah berkata kepadaku : Panggillah kemari Abu Bakar, bapakmu dan saudaramu, sehingga aku menulis sesuatu wasiat. Sebab aku khawatir ada orang yang berambisi mengatakan :“Aku lebih berhak“, padahal Allah dan orang-orang Mukmin tidka rela kecuali Abu Bakar.
Ibnu Abbas meriwayatkan katanya : Ketika Rasulullah saw sedang sakit keras, beliau bersabda kepada orang-orang yang ada di dalam rumah : Kemarilah aku tuliskan sesuatu wasiat buat kalian di mana kalian tidak akan sesat sesudahnya. Kemudian sebagian mereka berkata , sesungguhnya Rasululah saw dalam keadaan sakit keras sedangkan di sisi kalian ada al-Quran, cukuplah bagi kita Kitab Allah. Maka timbullah perselisihan diantara orang-orang yang ada di dalam rumah. Diantara mereka ada yang berkata : Mendekatlah, beliau hendak menulis suatu wasiat buat kalian di mana kalian tidak akan sesat sesudahnya. Diantara mereka ada juga yang mengatakan selain itu.
Mendengar perselisihan itu bertambah sengit dan gaduh akhirnya Rasulullah saw bersabda : Bangkitlah kalian. Ketika Rasulullah sawa sudah tidak kuat lagi keluar untuk mengimami shala maka beliau bersabda : „perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami shalat.“ Aisyah ra menyahut : Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar seorang ynag lembut. Jika dia menggantikanmu maka suaranya tidak dapat didengar oleh orang. Nabi saw bersabda : “Kalian memang seperti perempuan-perempuan Yusuf. Perintahkan Abu Bakar supaya mengimami shalat jama‘ah.“
Setelah itu Abu Bakarlah yang bertindak sebagai Imam shalat jama‘ah. Pada suatu hari, ketika Rasulullah saaw merasa sudah agak enak badan Nabi saw keluar kemudian mendapati Abu Bakar sedang mengimami shalat jama‘ah. Melihat kedatangan Rasulullah saw ini lalu Abu Bakar mundur tetapi diberi isyarat oleh Nabi saw agar tetap di tempatnya. Kemudian Nabi saw duduk di samping Abu Bakar lalu shalat mengikuti shalat Nabi saw yang dilakukannya dengan duduk itu, sementara itu orang-orang shalat mengikuti shalat Abu Bakar.
Orang-orang merasa gembira karena melihat Nabi saw tersebut, tetapi sebenarnya sakit beliau semakin bertambah serius dan rupanya hal itu merupakan kesempatan terakhir Rasulullah saw keluar melakukan shalat bersama orang banyak.
Ibnu Mas‘ud meriwayatkan, katanya : Aku pernah masuk membesuk Rasulullah saw ketika beliau sedang sakit keras , llau aku pegang beliau dengan tanganku seraya berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengalami demam panas sekali. Jawab Nabi saw : „Ya, demam ynag kurasakan sama dengan yang dirasakan oleh dua orang dari kalian (dua kali lipat).“ Aku katakan : „Apakah hal ini karena engkau mendapatkan dua pahala?“ Nabi saw menjawab :““Ya, tidaklah seorang Muslim menderita sakitnya itu kesalahan-kesalahannya sebagaimana daun berguguran dari pohonnya.“
Dalam keadaan sakit keras seperti itu Rasulullah saw menutupi wajahnya dengan kain. Apabila dirasakan sakit sekali maka beliau membuka wajahnya lalu bersabda :“Semoga laknat Allah ditimpahkan ke atas orang-orang Yahudi dan Nasrani ynag menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.“ Seolah-olah Nabi saw memperingatkan kaum Muslimin dari tindakan seperti itu.

SEBAGIAN SIFAT NABI SAW DAN KEUTAMAAN ZIARAH KE MASJID DAN KUBURANNYA

Rasulullah saw dikafani dengan tiga lapis kain, tanpa baju dan sorban. Setelah selesai dibungkus dengna kain kafan, beliau diletakkan di atas dipannya ynag berada tepat di pinggir kuburan ynag telah digali. Kemudian secara bergiliran orang-orang masuk menshalatkannya, gelombang demi gelombang dan tanpa ada yang mengimami mereka. Yang pertama kali menshalatkan ialah Al Abbas kemudian Banu Hasyim, orang-orang Muhajirin , orang-orang Anshar dan terakhir semua orang, RAsulullah saw dikuburkan di tempat di mana beliau wafat di kamar Aisyah ra.
Rasulullah saw wafat dengan meninggalkan 9 istri, yaitu : Saudah, Aisyah, Hafsyah, Ummu Habibah, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Juwairiah, Shafiah, dan Maimunah. Beliau tidak menikah dengna gadis selain dengan Aisyah ra.
Rasulullah mempunyai tiga anak lelaki : Al Qasim (karnanya beliau biasa dipanggil dengna Abul Qasim) yang dilahirkan sebelum kenabian dan meninggal pada usia dua tahun, Abdullah yang sering dipanggil juga dengan Ath-Thayyib dan Ath- Thahir, dan Ibrahim yang dilahirkan di Madinah pada tahun ke 8 Hijri dan meninggal apda tahun ke 10.
Sedangkan anak perempuan beliau ada empat Zainab, Fathimah, Ruqaiyyah dan Ummu Kaltsum. Ruqaiyyah wafat pada hari terjadinya perand Badr di bulan Ramadhan tahun kedua Hijri. Ummu Kaltsum meninggal pada bulan Sya‘ban tahun ke 9 hijri. Keduanya adalah istri Ustman bin Affan ra.
Rasulullah saw adalah orang ynag paling dermwawan khususnya di bulan Ramadhan. Orang ynag paling baik akhlak dan sosok tubuhnya. Orang yang paling lembut pergaulannya dan paling takut kepada Allah. Tidak pernah marah atau mendendam karena dirinya. Beliau marah hanya karena larangan-larangan Allah dilanggar. Tak ada sesuatupun yang dapat mencegah kemarahannya karena Allah ini hingga kebenaran menjadi pihak yang menang. Akhlaknya adalah al-Quran. Beliau adalah yang paling tawadhu‘. Memenuhi kebutuhan keluarganya dan merendahkan sayapnya untuk orang-orang lemah. Orang ynag paling pemalu. Tidak pernah mencela makan sama sekali. Jika menyukai suatu makanan maka ia akan memakannya dan jika
tidak menyukai maka ia akan meninggalkannya. Tidak pernah makan sambil bersandar (leyeh). Juga tidak pernah makan di meja makan. Beliau menyukai manisan, madu dan buah labu.
Kadang-kanga sebulan atau dua bulan di salah satu rumahnya tidak pernah ada asap dapur yang mengepul. Beliau menerima hadiah dan tidka menerima shadaqah. Beliau juga biasa mengesol sepatu, menjahit pakaian, membesuk orang sakit dan memnuhi undangan baik dari orang kaya ataupun miskin. Tempat tidurnya terbuat dari kulit ynag diisi dengan sabut pelepah kurma. Tidak banyak memiliki kesenangan dunia.
Allah telah memberinya kunci-kunci kekayaan dunia tetapi beliau tidak mau mengambilnya dan memilih akhirat. Banyak melakukan dzikir dan fikur. Tidak pernah tertawa lebar, tapi hanya tersenyum. Pernah bergurau dan tidak mengatakan kecuali yang benar. Senantiasa berlaku lemah lembut terhadap para sahabatnya, memuliakan orang yang dimulikan kaummnya dan mengangkatnya menjadi pemimpin mereka. Disebutkan di dlam hadits shahih dari Anas ra, ia berkata :
Aku tidak pernah menyentuh kain celupan atau sutera selembut telapak tangan Rasulullah saw. Aku juga tidak pernah mencium aroma sewangi aroma Rasulullah saw. Aku telah berkhidmat kepada Rasulullah saw selama sepuluh tahun tetapi beliau tidak pernah sama sekali berkata :ah“ kepadaku. Juga tidak pernah mengur terhadap apa yang aku lakukan dengan teguran :“kenapa engkau melakukannya?“ Juga tidak pernah menegur kenapa aku tidak melakukan sesuatu ?“
Ketahuilah bahwa ziarah masjid dan kuburan Nabi saw adlaah merupakan suatu amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Jumhur kaum Muslimin di setiap jaman sampai hari ini telah sepakat tentang hal tersebut. Kesepakatan ini didasarkan kepada sejumlah dalil diantaranya :
Pertama,
Disyariatkan Ziarah Kubur secara umum. Pada keterangan yangllau telah kami sebutkan bahwa Nabi saw biasa pergi setiap malam ke Baqi‘ memberi slam , mendo‘akan dan meintakan ampunan kepada para penghninya. Hal ini tersebut di dalam hadits shahih. Rincian tentang hal ini juga teradapt di dalam hadits-hadits shahih. Sebagaimana diketahui bawha kuburan Rasulullah saw adalah termasuk ke dalam keumumam kuburan sehingga hukum tersebut juga berlaku bagi kuburannya.
Kedua,
Adanya ijma‘ dari para sahabat. Thabi‘in dan orang-orang yang datang sesudah mereka bahwa setiap kali mereka melwati Raudah, merka senantiasa menziarahi kuburan Nabi saw. Hal ini diriwayatkan oleh para Imam terkenal dan jmhur para Ulama termasuk Ibnu Taimiyah.
Ketiga,
Adanya riwayat yang menyebutkan bahwa kebynakan para sahabat melakukan ziarah kubur Nabi saw diantaranya Bilal ra, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dengan sanad jayyid (bagus). Ibnu Umar sebagaimana diriwayatkan oleh Malik di dalam Al Muwattha‘ dan Abu Ayyub sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad. Tidak ada riwaat dari mereka yang menyebutkan bahwa mereka mengingkari amalan ini.
Keempat,
Sebuah riwayat ynag dikeluarkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahih bahwa ketika Nabi saw melepas keberangkatan Mu‘adz bin Jabal ke Yaman, beliau berpesan : „Wahai Mu‘adz, barangkali setelah tahunini engkau tidak akan bertemu lagi denganku. Barangkali engkau akan mengunjungi masjid dan kuburanku ini.“
Kata la‘alla (barangkali) dalam bahasa Arab punya makna harapan. Jika huruf an masuk ke dalam khabarnya maka mengandung makna tawaran dan harapan. Kalimat tersebut secara jelas berpesan kepada Mu‘adz agar sekembalinya ke Madinah melakukan ziarah atau kunjunagna ke masjid dan kuburannya guna mengucapkan salam kepadanya.
Kecuali itu hendaklah diketehui bahwa ziarah kuburan Nabi saw punya beberapa aturan ynag harus diikuti. Jika anda diberi kesempatan untuk menziarahinya maka pertama-tama hendaklah anda memasang niat untuk menziarahi masjidnya kemudian kuburan Nabi saw . Sebelum masuk Madinah sebaiknya anda mandi dan memakai pakaian yang bersih kemudian bawalah ingatna anda untuk mengenang kemuliaan kota Madinah ynag pernah ditempati oleh Rasul mulia. Jika telah masuk ke masjid maka hendaklah anda menuju ke Raudah yang mulia guna melaksanakan shalat tahiyatul masjid dua raka‘at di antara kuburan dan mimbar.
Jika anda telah mendekati kuburan Nabi saw janganlah anda meratap-ratap atau bergelayutan di jendela-jendela atau mengusap-usapkan badan ke dindingnya sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan orang-orang bodoh. Itu adlaah bid‘ah yang diharamkan. Tetapi hendaklah anda berdiri dari kubur Nabi saw sekitar empat depa seraya mengucapkan salam kepada Rasulullah saw dengan suara pelan, alu ucapkan : Aku bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adlah hmaba dan Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan Risalah Rabb-mu, memberi nasehat kepada ummatmu, berdakwah kepada jalan Allah dengan hikmah dan mau‘idzah, dan menyembah Allah sampai kematian datang menjemputmu. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, kepada keluargamu dan para sahabatmu.
Setelah itu menghadaplah ke Kiblat dan bergeserlah ke kanan sedikit dan berdo‘alah kepada Allah. Sebainya anda memulai do‘a dengan mengucapkan :
„Ya Allah, Engkau telah berfirman dan firman-Mu Benar : „Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya , datang kepada-Mu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohon ampun untuk mereka tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.“ (QS 4 : 64). Kini aku telah datang kepada-Mu seraya meminta ampunan dari segala dosaku dan mengharapkan syafaat-Mu dihadapan- Mu kelak. Ampunilah aku sebagaimana Engkau telah mengampuni generasi para sahabat yang pernah hidup di jaman Nabi-Mu.
Setelah itu berdo‘alah kepada Allah sesuka anda untuk kemashlahatan agama, dunia dan saudara-saudara anda dan kaum Muslimin secara keseluruhan. Tetapi janganlah anda lupa untuk mendo‘akan penulis (dan penterjemah) buku ini.
Ucapkanlah di dalam do‘a anda : Ya, Allah, jika engkau menghimpun generasi pendahulu dan generasi akhir pada hari yang tiada diragukan maka labuhkanlah kain ampunan-Mu kepada hambah-Mu ynag berlumuran dosa, Muhammad Sa‘id bin Mala Ramadhan al Buthy ( dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid). Masukanlah keduanya ke dalam hambahamba-Mu yang berhak mendapatkan ampunan-Mu. Karuniakanlah kepada keduanya untuk bisa memnum minuman sejuk dari telaga Nabi-Mu. Janganlah engkau jadikan keduanya diantara ornag-orang yang Engkau usir dari Rahmat-Mu.
Sesungguhnya kami sangat memerlukan do‘a yang tulus dari saudara-saudara kami dari kejauhan. Semoga anda ynag telah membaca buku ini berkenan untuk menyisipkan do‘a bagi kebaikan kami di tempat ynag penuh berkah itu.
Kami bersyukur kepada Allah atas perkenan-Nya untuk menyelewsaikan buku ini. Semoga Allah mengaruniakan kami untuk dapat berpegang teguh kepada Sunnah kekasih-Nya yang terpilih dan memnuhi hati kami dengan ras cinta kepadanya, serta menghimpun kami di bawah panjinya. Semoga Allah juga melimpahkan semua itu kepada saudara-saudara kami sesama Muslim. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan kekeliruan yang mungkin terdapat di dalam buku ini. Semoga tujuan yang ihklas dari penulisan buku ini dapat menjadi syafaat untuk bisa diterimanya permohonan ampunan tersebut. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada pemimpn kita ; Muhammad saw, keluarga dan semua sahabatnya.
Akhir do‘a kami, segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta allam.

Khilafah Abu Bakar Ash Shiddiq

Setelah wafatnya Rasulullah saw, kaum Muslimin mengadakan pertemuan di Saqifah Bani Sa‘idah. Mereka membicarakan siapakah sepatutnya yang menggantikan Rasulullah saw dalam memimpin kaum Muslimin dan mengursi persoalan ummat. Setelah diskusi, pembahasan , dan pengajuan sejumlah usulan, tercapailah kesepakatan bulat bahwa Khalifah Rasulullah pertama sesudah kematian beliau adalah orang yang pernah menjadi Khalifah (pengganti) Nabi saw dalam mengimami kaum Muslimin saat beliau sakit. Itulah Ash Shiddiq sahabat beliau ynag terbesar dan pendamping beliau di dalam gua. Abu Bakar ra. Ali ra tidak pernah menentang kesepakatan tersebut. Keterlambatan baiat Ali kepada Abu Bakar karena urusan yang berkaitan dengan perbedaan pendapat yang terjadi antara Abu Bakar dan Fathimah ra mengenai masalah warisan Fathimah dari Rasulullah saw.
Hal-hal Penting yang dilakukan Abu Bakar selama menjadi Khalifah
Pertama,
Setelah resmi menjadi Khalifah, Abu Bakar segera memberangkatkan pasukan Usamah. Pasukan itu tertahan setelah sampai di sebuah tempat dekat Madinah bernama Dzu Khasyab, tempat ketika Usamah mendapat berita tentang sakitnya Rasulullah saw. Abu Bakar ra tidak memperdulikan pendapat-pendapat yang mendesak agar pasukan Usamah dibekukna mengingat tersebarluasnya kemurtadan di sebagian barisan. Sebagaimana beliau juga tidak memperdulikan pendapat-pendapat yang menghendaki penggantian Usamah dengan orang lain.
Abu Bakar Ash Shiddiq ra berangkat mengantarkan pasukan yang dipimpin Usamah, dengan berjalan kaki. Ketika Usamah bermaksud turun dari kendaraannya agar dinaiki oleh Abu Bakar, ia berkata kepada usamah : „Demi Allah, engkau tidak perlu turun dan aku tidak usah naik.“ Selanjutnya Abu Bakar menyampaikan wasiat kepada pasukan untuk tidak berkhianat, tidak menipu, tidak melampaui batas, tidak mencincang musuh, tidak membunuh anak-anak atau wanita atau orang lanjut usia, tidak memotong kambing atau onta kecuali untuk dimakan.
Diantara wasiat yang disampaikan Abu Bakar kepada mereka ialah :
„Jika kalian melewati suaut kaum yang secara khusus melakukan ibadah di biara-biara maka biarkanlah mereka dan apa yang mereka sembah.“
Kemudian secara khusus Abu Bakar berkata kepada Usamah : “Jika engkau berkenan kuusulkan agar engkau mengijinkan Umar untuk tinggal bersamaku, sehingga aku dapat meminta pandangannya dalam menghadapi masalah/persoalan kaum Muslimin.” Usamah menjawab : „Urusanmu terpulang kepadamu.“
Kemudian Usamah bergerak bersama pasukannya. Setiap kali melewati suatu kabilah yang para warganya banyak melakukan kemurtadan. Usamah berhasil mengembalikan lagi (kepada Islam). Orang-orang murtad itu merasa gentar karena mereka yakin seandainya kaum Muslimin tidak akan keluar pada saat sekarnag ini dan dengan pasukan seperti ini untuk menghadapi orang-orang Romawi. Sesampainya di negeri (jajahan) Romawi, tempat dimana ayahnya terbunuh. Usamah beserta pasukannya menyerbu mereka hingga Allah memberikan kemenangan. Kemudian mereka kembali dengan membawa kemenangan.
Kedua,
Memberangkatkan pasukan untuk memerangi orang-orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat. Pasukan ini dibaginya, sepuluh panji, masing-masing pemegang panji diperintahkan untuk menuju ke suatu daerah. Sementara itu Abu Bakar sendiri telah siap berangkat memimpin satu pasukan ke Dzil Qishshah, tetapi Ali ra bersikeras untuk mencegahnya seraya berkata :
„Wahai Khalifah Rasulullah, kuingatkan kepadamu apa yang pernah dikatakan Rasululah saw pada perang Uhud.“Sarungkan pedangmu dan senangkanlah kami dengan dirimu. Demi Allah , jika kaum Muslimin mengalami musibah karena kematianmu niscaya mereka tidak akan memiliki eksistensi sepeninggalmu.“ Kemudian Abu Bakar ra kembali dan menyerahkan panji tersebut kepada yang lain. Allah memberikan dukungan kepada kaum Muslimin dalam pertemupuran ini, sehingga berhasil menumpas kemurtadan , memantapkan Islam di segenap penjuru Jazirah dan memaksa semua kabilah untuk membayar zakat.
Ketiga,
Memberangkatkan pasukan Khalid bin Walid ke Iraq, bersma Mtsni bin Haritsah Asy Syaibani yang kemudian berhasil menaklukan negeri dan kembali dengan membawa kemenangan dan barang rampasan.
Keempat,
Abu Bakar memberikan gagasan dan memprakarsai memerangi negeri-negeri Romawi. Setelah para sahabat dikumpulkan dan dimintai pendapat mereka tentang gagasan ini akhirnya mereka menyetujuinya. Lalu Abu Bakar menoleh ke arah Ali seraya bertanya :“Bagaimana pendapatmu wahai Abul Hasan?“ Ali ra menjawab ,“Aku melihat bahwa engkau senantiasa memperoleh keberkahan, keunggulan dan pertolongan insya Allah.“ Mendengar jawaban ini Abu Bkar ra merasa sangat gembira dan Allah pun melapangkan dadanya untuk melaksanakan gagasan tersebut.
Kemudian Abu Bakar mengumpulkan orang-orang dan menyampaikan kepada mereka. Dalam khutbahnya ia memobolisir masyarakat untuk berangkat jihad. Beliau juga menulis sejulah surat kepada para gurbernurnya, memerintahkan mereka agar hadir. Maka setelah berkumpul sejumlah komandan, Abu Bakar memerintahkan mereka agar berangkat ke Syam pasukan demi pasukan.
Abu Bakar ra menunjuk Abu Ubaidah ra mengepalai Amir pasukan. Setiap kali seornag Amir berangkat, beliau melepasnya dan memberikan wasiat agar bertaqwa kepada Allah, menjaga persahabatan dengan baik, selalu menjada shalat berjama‘ah pada waktunya. Beliau berpesan agar masing-masing orang memperbaiki dirinya sehingga Allah menjadikan orang lain berbuat baik padanya, menghormati par autusan musuh yang datang kepada mereka, mempersingkat keberadaan para utusan musuh tersebut di tengah -tengah mereka agar tidak mengetahui keadaan dan kondisi pasukan kaum Muslimin.
Setelah kaum Muslimin berangkat menuju negeri-negeri Romawi dan tiba di Yarmuk, mereka mengirim berita kepada Abu Bakar bahwa pasukan romawi berjumlah sangat besar. Kemudian Abu Bakar menulis surat kepada Khalid bin Walid di Iraq, memerintahkan agar berangkat menuju Syam dengna membawa separuh pasukan yang bertugas di Iraq untuk membantu pasukan Abu Ubaidah, dan menunjuk Mutsni bin Haritsah sebagai gantinya untuk memimpin separuh pasukan yang ada di Iraq. Kepada Khalid bin Walid Abu Bakar ra juga memerintahkan agar memimpin pasukan di Syam setibanya di negeri tersebut.
Kemudian Khalid bin Walid berangkat dan bergabung dengan kaum Muslimin di Syam. Kepada Abu Ubaidah, Khalid bin Walid menulis surat yang isinya :
“Amma ba‘du, sesungguhnya aku memohon kepada Allah agar melimpahkan keamanan kepada diriku dan dirimu pada saat menghadapi ketakutan dan memberikan perlindungan di dunia dari segla keburukan. Baru saja aku menerima surat dari Khalifah Rasulullah saw. Belau memerintahkan aku agar bergerak menuju Syam dan memimpin pasukannya. Demi Allah, aku tidak pernah meminta hal tersebut dan aku tidak mengininkannya. Tetaplah engkau pada posisimu sebagaimana sedia kala, kami tidak akan menolak (perintah)mu, tidak akan menentangmu dan tidak akan memutuskan perkara tanpa kehadiran dirimu …”
Setelah membaca surat Khalid bin Walid , Abu Ubaidah berkata : “Semoga Allah melimpahkan keberkahan keputusan Khalifah Rasulullah dan mendukung apa yang dilakukan oleh Khalid.“
Sebelumnya Abu Bakar telah menulis surat kepada Abu Ubaidah yang isinya menyatakan :
“Amma ba‘du! Sesungguhnya aku telah emngangkat Khalid bin Walid untuk memerangi musuh di Syam. Oleh karena itu jangalah engkau menentangnya. Dengar dan taatilah dia! Wahai saudaraku, sesungguhnya aku mengutusnya kepadamu bukan karena dia lebih baik darimu, tetapi hanya karena aku berkeyakinan bahwa dia memiliki kecerdikan dalam berperang di tempat yang sangat kritis ini. Semoga Allah menghendaki kebaikan bagi kami dan kamu. Wassalam….“
Kemudian terjadilah beberapa kali pertempuran sengit antara kaum Muslimin dan orang-orang Romawi yang akhirnya dimenangkan oleh kaum Muslimin. Orang-orang Romawi yang berhasil dibunuh tidka terhitung banyaknya, sebagaimana jumlah mereka yang ditawan.
Di tengah berkecamuknya pertempuran ini Khalid bin Walid mendapat surat yang memberitahukan bahwa Abu Bakar telah wafat dan digantikan oleh umar ra. Surat itu juga menytakan pemecatan Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan dan diganti kembali oleh Abu Ubaidah. Berita ini oleh Khalid dirahasiakan agar tidak terjadi keguncangan di kalangan barisan kaum Muslimin. Ketika Abu Ubaidah menerima berita tersebut, ia juga merahasiakan karena pertimbangan yang sama.
Abu Bakar ra wafat
Abu Bakar wafat pada tahun ke 13 Hijri, malam Selasa tanggal 23 Jumadil Akhir, pada usia 63 tahun. Masa Khilafahnya 2 tahun 3 bulan dan 3 hari. Ia dikubur di rumah Aisyah ra di samping kubur Rasulullah saw.
Wasiatnya Tentang Khalifah Umar
Menjelang wafatnya. Abu Bakar meminta pendapat sejumlah sahabat generasi pertama ynag tegolong ahli syura. Mereka seluruhnya sepakat untuk mewasiatkan Khilafah sesudahnya kepada Umar bin Khaththab ra. Dengan demikan Abu Bakar merupakan orang yang pertama kali mewasiatkan Khilafah sepeninggalnya kepada orang yang sudah ditunjuk, dan mengangkat Khilafah berdasarkan wasiat tersebut. Barangkali ada baiknya kami kemukakan penjelasan tentang rincian hal tersebut :
Ath-Thabari, Ibnu Jauzi dan Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Abu Bkar ra khawatir kaum Muslimin berselisih pendapat sepeninggal beliau, kemudian tidak memperoleh kata sepakat. Karenanya, ia mengajak mereka ketika sakitnya semakin berat agar mencari seorang Khalifah bagi mereka sepeninggalnya. Abu Bakar ra ingin agar hal tersebut telah tuntas semasa ia masih hidup dan sepengetahuannya.
Kaum Muslimin belum mendapatkan kesepakatan tentang siapa yang akan menggantikan Abu Bakar ra dalam amsa yang singkat tersebut. Kemudian mereka mengembalikan masalah tersebut kepada Abu Bakar seraya berkata,“Terserah kepada pendapatmu saja.“ Saat itulah Abu Bakar mulai meminta pendapt dari para tokoh sahabat masing-masing secara terpisah. Ketika Abu Bakar ra mengetahui kesepatakan mereka tentang kelayakan dan keutamaan Umar ra, ia pun keluar menemui orang banyak seraya memberitahukan bahwa ia telah menyerahkan segenap usaha untuk memlih siapakah orang ynag paling layak dan tepat menggantikannya. Kepada khalayak, Abu Bakar ra meminta agar mereka menunjuk Umar ra, sebagai Khalifah sepeninggalnya. Mereka semua menjawab :“Kami dengar dan kami taat.“
Atas dasar apa Umar menjadi Khalifah ? Mungkin ada yang menyangka bahwa cara pengangkatan Khalifah tersebut dengan pemilihan calon tunggal dan jauh dari syura yang seharusnya dilakukan oleh Ahlul Hallo Wal Aqdi di kalangna kaum Muslimin.
Jika kita perhatikan secara seksama, sebenarnya hal tersebut didasarkan kepada syura Ahlul Hallo Wal Aqdi. Sebab, Abu Bakar tidak meminta kepada mereka agar menunjuk Umar kecuali setelah meinta pendapat para tokoh sahabat ynag kemudian secara bulat menyepakati dan merekomendasikan Umar. Sekalipun demikian pengangkatan Abu Bakar terhadap Umar tersebut belum bisa dilaksanaan dan dikukuhkan kecuali setelah ia berkhutbah di hadapan para sahabat dan meinta kepada mereka untuk mendengar dan mentaati Umar. Lalu merka semua menjawab : Kami mendengar dan kami mentaati. Juga setelah kaum Muslimin bersepakatan sepeninggalnya atas kebenaran tindakan Abu Bakar dan kabsahan proses penggantian (suksesi) tersebut.
Demikianlah dalil dari ijma‘ (kesepakatan) atas terlaksananya Imamah melalui istikhlaf (penunjukkan orang tertentu) dan ahd (wasiat) dengan memperhatikan syarat-syarat yang syari dan mutabarah.
Surat Wasiat (Kitabul ‚ahd) kepada Umar
Setelah mengetahui kesepatakan semua orang atsa penunjukkan Umar sebagai pengganti. Abu Bakar memanggil ustman bin Affan dan membacakan surat berikut ini kepadanya :
“Bismillahirrahmanirrahim. Berikut ini adalah wasiat Abu Bakar, Khalifah Rasulullah, pada akhir kehidupannya di dunia dan awal kehidupannya di akherat, di mana orang kafir akan beriman dan orang fajir akan yakin, sesungguhnya aku telah mengangkat Umar bin Khaththab untuk memimpin kalian. Jika dia bershabar dan berlaku adil maka itulah yang kuketahui tentang dia, dan pendapatku tentang dirinya. Tetapi jika dia menyimpang dan berubah maka aku tidak mengetahui hal yang ghaib. Kebaikanlah yang aku inginkan bagi setiap apa yang telah diupayakan. Orang-orang yang zhalim akan mengetahui apa nasib yang akan ditemuinya.”
Abu Bakar menstempel. Lalu surat wasiat ini dibawa keluar oleh Ustman untuk dibacakan kepada khalayak ramai. Kemudian mereka pun membaiat Umar bin Khaththab. Peristiwa ini berlanguns pada bulan Jumadil Akhir tahun ke 13 Hijri.
Beberapa Ibrah.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Khilafah Abu Bakar ra tersebut menunjukkan sejumlah hal dan prinsip , diantaranya :
Pertama,
Khilafah Abu Bakar ra berlangsung melalui syura. Semua Ahlul Halli Wal ‚Aqdi dari kalangna sahabt termasuk di dalamnya Ali ra, ikut serta dalam pengambilan keputusan ini. Hal ini menunjukkan bahwa tidka satupun nash al-Quran atau Sunnah yang menegaskan hak Khalifah kepada seseorang sepeninggal Rasulullah saw. Seandainya ada nash ynag menegaskannya niscaya tidak akan ada syura untuk menentukannya dan para sahabatnya tidak akan berani melangkahi apa yang ditegaskan oleh nash tersebut.
Kedua,
Perbedaan pendapat yang terjadi di Saqifah Bani Sa‘idah antar para tokoh sahabat , dalam rangka memusyawarahkan pemilihan Khalifah merupakan hal ynag lumrah ynag menjadi tuntutan pembahasan suatu permasalahan. Bahkan hal ini menjadi bukti nyata atas perlindungan Pembuat Syariat (Allah) terhadap beraneka ragam pendapat dan pandangan dari segala bentuk pelarangan dan pembatasan selama menyangkut masalah yang tidak dinyatakan secara tegas dan gamlang oleh nash. Jalan untuk mencapai kebenaran tentang setiap masalah yang didiamkan oleh Pembuat Syariat ialah dengan mengemukakan berbagai pandangan dan membahasnya semua dengan obyektif, bebas dan jujur.
Musibah yang dihadapi kaum Muslimin pada sat itu sangat besar dan persoalannya pun sangat pelik. Seandainya para sahabat tidak menemukan satu pilihan (calon tunggal9 yang ditawarkan untuk divoting kemudian disepakati, niscaya hal tersebut merupakan syura palsu dan kesepakatan yang dipaksakan dari luar.
Sungguh aneh perilaku orang-orang yang menuntut syura di dalam Islam yang menuduhnya diktatorship, sehingga ketika menyaksikan praktek-praktek yng sebenarnya dengan serta merta mereka menuduhnya (karena bodoh atau pura-pura bodoh) sebagai perpecahan dan pertentangan. Bagaimana kiranya konsepsi dan bentuk syura dalam benak mereka ? Bagaimankah seharusnya syura itu dipraktekkan ?
Ketiga,
Nasehat Ali ra kepada Abu Bakar ra agar tidak ikut terjun memerangi kaum murtad. Ali khawatir kaum Muslimin jika dia terbunuh, menjadi bukti nyata atas kecintaan Ali ra yang sangat mendalam terhadap Abu Bakar. Disamping merupakan bukti nyata pula bahwa Ali telah sepenuhnya menerima Khilafah Abu Bakar dan kelayakannya untuk memimpin kaum Muslimin. Sebagaimana hal ini juga menunjukkan tingkat kerjasama dan keikhlasan antara keduanya.
Apapun yang dikatakan orang tentang keterlambatan Ali dalam membaiat Abu Bakar, dan betatapun perbedaan tentang seberapa lama keterlambatan pembaiatan tersebut, tetapi yang jelas bahwa hal tersebut tidak bertentangan dengan hakekat ini dan tidak pula merusaknya. Seperti diketahui bahwa keterlambatan baiat Ali ra hanylaah karena pertimbangan sambung rasa (musyawaraH9 atau mujamalah (basa basi) terhadap perasaan Fathimah ra yang begitu yakin, dengan ijtihadnya , bahwa dirinya berhak mewarisi dari ayahnya. Rasulullah saw, sebagaimana setiap anak wanita mewarisi dari bapaknya. Keterlabatan ini bukan karena kedengkian atau ketidak setujuan yang disembunyikanoleh Ali terhadap Abu Bakar. Mungkinkah orang yang menyimpan sikap yang penuh dengna rasa cinta , kerjasama dan ghirah ini ?
Keempat,
Setiap Muslim yang merenungkan sikap yang diambil oleh Abu Bakar ra terhadap Kabilah-kabilah ynag murtad dan tekadnya yang begitu kuat untuk memerangi kabilahkabilah terebut, sehingga berhasil meyakinkan semua sahabat yang pada mulanya tidak bersedia melakukannya, niscaya akan meyakini adanya himah Allah yang telah mengangkat orang yang sesuai dan untuk menghadapi tugas yang sesuai pula. Siapapun diantara kita hampir tidak dapat membayangkan bahwa di kalangan sahabt ada orang yang lebih patut dari Abu Bakar untuk menghentikan badai (kemurtadan) tersebut dan mengembalikan ke pangkuan Islam.
Umar yang terkenal tegar dan kuat di kalangan para sahabat itu menjadi lemah tekadnya dan surut ketegarannya menghadapi badai ini. Adakah orang yang telah menyaksikan hikmah Ilahiyah ynag mengagumkan ini masih inign mengecam sejarah dan apra pelakunya ?
Kelima,
Mungkin ada yang mengira bahwa semata-mata wasiat (‚ahd) dan penunjukkan ganti (istikhlaf) dapat dinilai sebagai salah satu cara pengukuhan Imamah dan pemerintahan, dengan dalil tindkaan Abu Bakar yang telah mewasiatkan Khalifah kepada umar. Tetapi permasalahan yang sebenarnya tidaklah demikian. Pengukuhan Imamah tidak dapat diakui sah kecuali setelah mengemukakan kepada kaum Muslimin, kemudian pernyataan ridha dari kaum Muslimin terhadap Imamah yang telah diwasiatkan tersebut.
Jadi, ditetapkannya Imamah hanyalah dengan keridhahan tersebut. Yakni, seandainya Abu Bakar mewasiatkan Khalifah kepada umar tetapi kaum Musliin tidak meridhainya maka wasiat terebut tida ada nilainya.
Dari sini kita mengetahui, sebagaimana telah kami sebutkan terdahulu, bahwa Khilafah Umar berlangsung berdasarkan masyurah dhiminiyah (syura tidak langsung/implicit) yang termasuk ke dala kesepakatan sahabat dalam menyetujui orang yang dipilih Abu Bakar untuk mereka.

KHILAFAH Umar bin Khaththab

Ia adalah Amirul Mukminin Umar bin Khaththab. Dijuluki oleh Rasulullah dengan al Faruq, karena ia membedakan antara yang haq dan yang batil. Dibaiat menjadi Khalifah pada hari kematian Abu Bakar Ash Shiddiq. Selama masa khilafahnya ia melakukan tugasnya dengan baik sepergi halnya sirah, jihad, dan kesabaran Abu bakar ra.
Dengan Umar bin Khaththab , Allah memuliakan Islam. Hal pertama yang dilakukannya setelah menjabat sebagai Khalifah ialah mencopot Khalid bin Walid dari jabatan sebagai komandan pasukan dan menggantikannya dengan Abu Ubaidah. Ia ikut menyaksikan penaklukan Baitul Maqdis, dan tinggal di sana selama sepuluh hari. Kemudian kembali ke Madinah dengan membawa serta Khalid bin Walid.
Tatkala Khalid bin Walid menanyakan perlakukan Umar terhadap dirinya, Umar ra menjawab :
„Demi Allah, wahai Khalid, sesungguhnya engkau sangat kumuliakan dan sangat kucintai.“ Kemudian Umar menuls surat ke berbagai negeri dan wilayah menyatakan kepada mereka : „Sesungguhnya aku tidak memcat Khalid karena kebencian dan tidak pula karena pengkhianatan. Tetapi aku memecatnya karena mengasihani jiwa-jiwa manusia dari kecepatan serangan-serangan dan kedahsyatan benturan-benturannya.“
Khalid bin Walid merupakan seorang putra dari bibinya Umar ra. Beliau meinggal apda masa Khalifah Umar di Hamat.
Damaskus berhasil ditaklukan dengan dua cara, damai dan kekerasan. Sedangkan Hamsh dan Ba‘albak ditakulan secara damai, Bashrah dan Aballah ditaklukan dengan cara kekerasan. Semua penaklukanini terjadai apda tahun ke 14 Hijri. Di tahun ini pula Umar menghimpu ornagorang untuk shalat tarawih berjama‘ah 20 rakaat.
Pada tahin 15 Hijri Yordania secara keseluruhan berhasil ditaklukan melalui kekerasan, kecuali Thabriah ynag ditundukkan dengan damai. Pada tahun ini, terjadi pula perang Yarmuk, dan Qadisiah. Berkata Ibnu Jurair di dalam Tarikhnya. Pada tahun ini Sa‘ad membangun Kufah, Umar menentukan sejumlah kewajiban membentuk Diwandiwan dan memberi pemberian berdasarkan senioritas dalam memasuki Islam.
Pada tahun 16 hijri AL Ahwaz dan Mada‘in ditaklukan. Di kota ini Sa‘ad menyelenggarakan shalat Jum‘at, bertempat di Istana Kisra. Ini merupakan shalat Jum‘at berjama‘ah pertama kali diadakan di Iraq.
Umar meminta pendapat para sahabat termasuk Ali ra untuk keluar memerangi Persia dan Romawi, lalu Ali ra mengemukakan perdapatnya : „Sesungguhny amasalah ini (peluang) menang dan kalanya tidak banyak dan uga tidak sedikit. Ia adalah agama Allah yang dimenangkan-Nya dan tentaranya yang dipersiapkan-Nya dan disebarkan_Nya hingga ke tempat ynag telah dicapainya… Posisi pemerintah (penguasa) bagaikan posisi benang dala matarantai biji tasbih, jika benang itu putus maka biji-biji tasbih itu akan berantakan danhilang Jadilah poros dan putarlah roga dengan bangsa Arab.“
Di tahun yang sama (16 H) terjadi perang Jalaula Yazdasir putra Kisra berhasil dikalahkan. Takrit berhasil ditakulkan. Umar berangkat berperang kemudian menaklukan Baitul Maqdis dan menyampaikan khutbanya yang sangat terkenal di Al-Jabiah. Pada tahun ini juga Qanasrin ditaklukan dengan kekerasan. Haleb , Anthokiah dan Manbaj ditundukkan bukan secara damai. Pda bulan Rabi‘u awal tahun ini Umar menulis kalender Hijri dengan meinta pertimbangan Ali ra.
Tahun ke 17 Hijri, Khalifah Umar memperluas Masjid nabawi. Kemarau panjang terjadi sehingga beliau mengajak penduduk untuk shalat minta hujan. Dengan perantaraan do‘a Abbas hujanpun turun. Ibnu Sa‘Ad meriwayatkan bahwa Umar keluar untuk shalat minta hujan, ia mengenakan selendang Rasulullah saw. Pada tahun ini pula Al Ahwaz ditaklukan secara damai.
Wabah Tha‘un
Pasukan kaum Muslimin yang tengah berada di Syam mendapat musibah wabah Tha‘un , tahun 12 Hijri. Setelah mendengar berita ini, Umar yang tengah menuju Madinah berkeinginan untuk kembali lagi ke Syam. Lalu beliau meinta pendapat para sahabatnya. Menanggapi masalah ini pada mulanya para sahabat berselisih pendapat , tetapi kemudian Abdur Rahman bin Auf datang seraya memberitakan bahwa Nabi saw pernah bersabda :
„Apabila kalian mendengar terjadinya suatu wabah di suatu negeri, maka jangalah kalian datang ke negeri tersebut, dan apabila tejradi wabah di suatu negeri sedangkan kalian tengah berada di negeri tersebut, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya.“ karena itu Umar kembali lagi ke Madinah.
Pada tahun 19 Hijri Qisariah ditaklukan dengan kekerasan . Tahun berikutnya 20 Hijri, Mesir ditundukkan dengan kekerasan. Dikatakan bahwa Mesir secara keseluruhan ditaklukan dengan secara damai kecuali Iskandariyah. Di tahun ini pula Maroko ditaklukan dengan kekerasan. Kaisar Agung Romawi binasa pada tahun yang sama.
Khalifah Umar mengusir Yahudi dari Khaibar dan Najran.
Tahun 21 Hijri Iskandariah dan Nahawand ditaklukan melalui kekerasan, sehingga orang-orang ajam tidak memiliki kekuatan terorganisir lagi. Tahun 22 Hijri Adzerbaijan ditaklukkan dengan kekuatan, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa ngeri ini ditaklukan dengan secara damai. Pada tahun ini pula Dainur, Hamdan, Tripoli barat dan Rayyi ditaklukan melalui kekuatan. Pada tahun ke 23 Hijri sisa-sisa negeri Persia ditakulan. Kroman ; Sajistan, Asbahan dan berbagai pelosoknya. Pada akhir tahun ini Khalifah Umar menunaikan ibadah Haji. Sa‘id bin musayyab berkata : Setelah nafar (berangkat) ari Mina. Umar singgah di Abthakh kemudian duduk bersila dan mengucapkan do‘a seraya mengangkat kedua tangannya :
„Ya. Allah usiaku telah lanjut, kekuatanku telah mulai lemah, rakyatku telah tersebar luas, maka panggilah aku kepada-Mu, tanpa ada kewajiban yang aku sia-siakan atau amalan yang melewati batas.“
Pada penghujung bulan Dzul Hijjah tahun ini Umar bin Khaththab syahid terbunuh.
Bukhari meriwayatkan dari Aslam bahwa Khalifah Umar pernah berdo‘a : „Ya, Allah karuniailah aku mati syahid di jalan-Mu dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu.“
Wafatnya Khalifah umar ra.
Orang yang membunuh adalah seorang Majusi bernama Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Abu Lu‘luah. Disebutkan baha ia membunuh Umar karena ia pernah datang mengadu kepada Khalifah Umar tentang berat dan banyaknya kharaj (pajak) ynag harus dia keluarkan. Tetapi Khalifah Umar menjawab ,“Kharajmu tidak terlalu banyak.“
Kemudian ia pergi sambil menggerutu :“Keadilan menjangkau semua orang kecuali aku“ Lalu ia berjanji akan membunuhnya,. Maka dipersiapkanlah sebilah pisau belati yang telah diasah dan diolesi dengan racun orang ini adalah ahli berbagai kerajinan lalu disimpan di slaah satu sudut masjid. Tatkala Khalifah Umar berangkat ke masjid seperti biasanya menunaikan shalat shubuh, langsung saja ia menyerang. Dia menikamnya tiga tikaman dan berhasil merobohkannya.
Kemudian setiap orang yang berusaha mengepung dirinya, diserangknya pula. Sampai ada salah seorang berhasil menjaringkan kain kepadanya. Setelah melihat bahwa dirinya terikat dan tidak bisa berkutik, ida membunuh dirinya dengan piasu belati yang dibawanya.
Itulah berita yang disebutkan para perawi tentang pembunuhan Umar ra.
Barangkali di balik peristiwa pembunihan ini terdapat konspirasi yang dirancang oleh banyak pihak, diantaranya orang-orang Yahudi, majusi dan Zindiq. Sangat tidak mungkin perbuatankriminal ini dilakukan semata-mata karena kekecewaan pribadi karena banyaknya kharaj yang harus dikeluarkan. Wallauhu‘alam.
Ketika diberitahukan bahwa pembunuhnya adlah Abu Lu‘luah Khalifah Umar berkata :“Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku Muslim.“ Kemudian Umar berwasiat kepada putarnya :Wahai Abdullah, periksalah hutang-hutangku.“
Setelah dihitung ternyata Umar punya hutang sejumlah 86.000 dirham. Lalu Khalifah Umar berkata ,“Jika hartea keluarga Umar sudah mencukupi maka bayarlah dari harta mereka, jika tidak mencukup maka pintalah kepada Bani ‚Addi. Jika harta mereka juga belum mencukupi maka mintalah kepada Quraisy.“ Selanjutnya Umar berkata kepada anaknya,“ pergilah menemui Ummul Mukminin, Aisyah! Katakan bahwa Umar meminta ijin untuk dikubur berdampingan dengan kedua sahabatnya (maksudnya Nabi saw dan Abu Bakar).“ Mendengar permintaan ini, Aisyah ra menjawab ,“Sebetulnya tempat itu kuinginkan untuk diriku sendiri, tetapi biarlah sekarang kuberikan kepadanya.“
Setelah hal ini disampaikan kepadanya, Umar langsung memuji Allah.
Umar Menunjuk Salah Seorang Dari Ahli Syura
Sebagian sahabat berkata kepada Umar ,“Tunjuklah orang yang engkau pandang berhak menggantikanmu.“ Kemudian Umar menjadikan urusan ini sepeninggalnya sebagai hal yang disyurakan antara enam orang yaitu : Ustman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa‘ad bin Abi Waqash dan Abdur Rahman bin Auf ra. Umar berkeberatan menunjuk slaah seorang diantara mereka secara tegas. Selanjutnya Umar berkata:
“Saya tidak menanggung urusan mereka semasa hidup ataupun sesudah mati. Jika Allah menghendaki kebaikan buat kalian maka Allah akan menghimpun urusan kalian pada orang yang terbaik di antara mereka sebagaimana Allah telah menghimpun kalian pada orang yang terbaik diantara kalian sesudah Nabi kalian.“
Dengan demikian Umar merupakan orang pertama yang membentuk „team“ dari para sahabat dan dinamakan dengan Ahli Syura, kemudian menyerahkan urusan Khilafah sepeninggalnya kepadanya. Secara demikian , mereka ini merupakan „Lembaga Politik“ tertinggi dalam pemerintahan.
Bagaimana Berlangsungnya Pemilihan Ustman ?
Ahli Syura yang telah ditunjuk oleh Umar tersebut mengadakan pertemuan di salah satu rumah guna membahas masalah ini. Sementara itu Thalhah berdiri di pintu rumah guna menjada dan melarang orang-orang untuk memasuki pertemuan tersebut. Dalam Syura diperoleh kesepakatan bahwa tiga orang diantara mereka telah menyerahkan masalah Khilafah kepada tiga orang lainnya. Zubair menyerahkan kepada Abdur Rahman bin Auf, sedangkan Thalhah memberikan haknya kepada Ustman bin Affan.
Abdur Rahan bin Auf berkata kepada Ustman dan Ali ,“Siapakah di antara kalian berdua yang melepaskan diri dari perkara ini maka kepadanya akan kami serahkan ?“ Keduanya diam tidak memberikan jawaban, lalu Abdur Rahman berkata ,“Sesungguhya aku meninggalkan hakku terhadap perkara ini dan merupakan kewajibanku kepada Allah dan Islam untuk usaha guna mengangkat orang ynag paling berhak diantara kalian berdua.“ Keduanya menjawab,“Ya“. Abdur Rahman bin Auf kemudian berbicara kepada masing-masing dari keduanya sambil menyebutkan keutamaan yang ada pada keduanya.
Lalu ia mengambil janji dan sumpah, „Bagi siapa yang diangkat harus berlaku adil dan siapa yang dipimpin harus mendengar taat“. Keduanya menjawab ,“Ya“. Kemudian mereka berpisah.
Setelah ini Abdur Rahman bin Auf meminta pendapat dari khalayak ramai tentang kedua orang (calon Khalifah) ini. Sebagaimana ia juga meminta pandangan dari para tokoh dan pimpinan mereka, baiks ecara bersamaan maupun terpisah, dua-dua, sendirisendiri atau berkelompok, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Bahkan kepada para wanita yang bercadar, anak-anak di berbagai perkanotran, orang-orang Arab Badui dan para pendatang ynag datang ke Madinah. Proses (hearing) ini dilakukan selama tiga hari tiga malam sampai akhirnya didapat kebulatan suara yang menghendaki Ustman bin Afan di dahulukan, kecuali dua orang yaitu Ammar bin Yasir dan Miqdad yang menghendaki Ali didahulukan tetapi kemudian kedua orang ini bergabung kepada pendapat mayoritas.
Pada hari keempat Abdur Rahman bin Auf mengadakan pertemuan dengan Ali dan Ustman di rumah anak saudara perempuannya, Musawwir bin Makhramah. Dalam pertemuan ini Abdur Rahman bin Auf menjelaskan,“ Setelah kutanyakan pada orang-orang tentang anda berdura, maka kudapati tidak seorangpun diantara merka yang menolak anda berdua.“ Kemudian Abdur Rahman bin Auf keluar bersama keduanya menuju Masjid dan mengundang orang-orang Anshar dan Muhajirin, sampai mereka berdesakan di Masjid. Abdur Rahman bin Auf naik ke Mimbar Rasulullah sawa lalu menyampaikan pidato dan berdo’‘ panjang sekali. dAlam pidatonya ia mengatakan :
„Wahai manusia, sesungguhnya aku telah menanyakan kepada kalian secara tersembunyi dan terang-terangan tentang orang ynag paling kalian percaya dapat mengemban amanat (khilafah), lalu aku tidak melihat kalian menghendaki selain dari kedua orang ini : Ali dan Ustman. Maka berdirilah dan kemarilah wahai Ali.“ Setelah Ali berdiri dan mendekatinya, Abdur Rahman bin Auf menjabat tangan beliau seraya berkata ,“Apakah kamu berbaiat kepadaku (untuk memimpin) atas dasar kitab Allah, Sunnah Nabi-Nya, perbuatan Abu Bakar dan Umar ? Ali menjawab, „Tidak tetapi sesuai usaha dan kemampuanku untuk itu.“
Abdur Rahman kemudian melepas tangannya , llau berkata ,“Berdirilah dan kemarilah wahai Ustman“. „Apakah kamu berbaiat kepadaku (untuk memimpin) atas dasar Kitab Allah, Sunnah Nabi-Nya, perbuatan Abu Bakar dan Umar ? Ustman menjawab ,“Ya“.
Kemudian Abdur Rahman mengangkat kepalanya ke arah masjid dan meletakkan tangannya di tangan Ustman seraya berkata :“Ya Allah , sesungguhnya aku telah melepaskan amanat ynag terpikulkan di atas tengukku dan telah kuserahkan ke atas tenguk Ustman.“ Kemudian orang-orang pun berdesakkan membaiat Ustman di bawah mimbar. Ali ra adalah orang yang pertama kali membaiatnya Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Ali merupakanorang yang terakhir membaiatnya.
Beberapa Ibrah.
Pertama, Telah kita ketahui bahwa tindakan pertama yang dilakukan oleh Umar ra adalah memecat Khalid bin Walid . Kebanykaan penulis kontenporer telah melakuan kesalahan dalam menanggapi masalah pemecatan ini. Mereke menjadikannya bahan untuk menggugat kedudukan Khalid. Padahal penafsiran dari pemecatan ini dapat dilihat dengan jelas dalam tindakan Umar sendiri, dalam ucapan yang diucapkan tentang Khalid dan dalam pujian yang disampaikannya kepada Khalid, seperti telah kami sebutkan , Umar berkata kepada Khalid :
„Demi Allah, wahai Khalid sesungguhnya engkau sangat kumuliakan dan sangat kucintai.“ Kemudian Umar menulis surat ke berbagai wilayah, menjelaskan sebab pemecatan Khalid bin Walid : Sesungguhnya aku tidan memecat karena kebencian dan tidak pula karena pengkhianatan. Tetapi aku memecatnya karena mengasihi jiwa-jiwa manusia dari kecepatan serangan-serangannya dan kedahsyatan benturan-benturannya.“
Ketika diberitahu tentang sakitnya Khalid, Khalifah Umar yang waktu itu berada di suatu tempat langsung pergi ke tempat Khalid di Madinah dengan menempuh perjalanan selama semalam. Padahal seharusnya perjalanan ini biasanya ditempuh selama tiga hari. Ketika Umar tiba di tempat tersebut, Khalid sudah wafat, lalu Umar mengucapkan „Inna lillahi wa inna iLahihi raji‘un“ dengan penuh kesedihan. Kemudian Umar duduk di pintu rumah Khalid sampai selesai pengurusan jenazahnya. Ketika kematiannya ditangisi oleh sejumlah wanita lalu dikatakan kepada Umar, tidakkah engkau mendengarnya ? Mengapa engkau tidak melarang mereka? Umar menjawab:“Tidaklah mengapa wanita-wanita Quraisy menangisi Abu Sulaeman selama tidak meratapi dan bukan karena kecemasan.“
Ketika mengantar jenazahnya. Umar melihat seorang wanita muhrimah menangisi lalu Umar bertanya :“Siapakah wanita muhrimah ini?“ Dikatakan kepadanya :“Ibunya“: Umar berkata penuh keheranan :“Ibunya?“ Sungguh mengagumkan (tiga kali)! Kemudian Umar berkata :“Adakah wanita lain yang melahirkan orang seperti Khalid?“
Kedua,
Teks yang kami sebutkan di atas menegaskan bahwa Khalid meninggal dan dikebumikan di Madinah. Ini merupakan pendapat sebagian ahli sejarah. Namun jumhur memandang bahwa sebenarnya Khalid meninggal dan dikubur di Hamsh (Suriah). Pendapat yang terakhir inilah yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir di dalam Al Bidayah wan Nihayah. Sebab menurut riwayat yang kuat, setelah dipecat oleh Umar, Khalid melakukan ibadah umrah, kemudian kembali ke Syam dan menetap di Syam sampai meninggal pada tahun 21 Hijri.
Demikian sikap Umar yang selalu memuji Khalid baik di waktu hidup atau sesudah kematiannya. Ibnu Katsir meriwayatkan dari Al Wakidi bahwa Umar pernah melihat rombongan haji datang dari Hamsh lalu ia bertanya , „Adakah berita yang harus kami ketahui?“ Mereka menjawab:“Ya, Khalid telah wafat“. Kemudian Umar mengucapkan Ina lillahi wa inna ilaihi raji‘un lalu berkata , „Demi Allah, ia sangat mahir dan tepat menebas tengkuk-tengkuk musuh. Ia seorang tokoh yang terpercaya.“
Pujian Umar kepada Khalid tersebut tidak bertentangan dengan sebagian sikap yang bersifat ijtihadiah yang memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat antar keduanya. Kemudian masing-masing dari keduanya bertindak sesuai pandangan yang diyakininya. Sebaiknya mereka yang menggugat kedudukan Khalid karena sikap Umar terhadapnya, atau orang-orang yang menggungat kedudukan Umar karena sikap tersebut, memahami permasalahan dari segala seginya. Dan membedakan antara sikap ijtihadiah ynag dijamin mendapat pahala betapapun hasilnya dan penyimpangan pemikiran atau perilaku yang tidak mungkin dilakukan oleh para sahabat Rasulullah sa.w
Ketiga,
Diantara hal ynag paling menonjol yang dapat dicatat oleh setiap orang yang memperhatikan Khalifah Umar ialah, kerjasama yang bersih dan istimewa antara Umar dan Ali ra. Dalam Khilafah Umar , Ali menjadi mustasyar awwal (penasehat pertama) bagi Umar dalam semua persoalan dan problematika. Setiap Ali mengusulkan suatu pendapat , Umar sellau melaksanakannya dengan penuh kerelaah sehingga Umar pernah berkata :“Seandainya tidak ada Ali niscaya Umar celaka.“
Sedangkan Ali bin Abu Thalib, dengan penuh keikhlasan dan kecintaan memberikan nasehat kepadanya dalam segala urusan dan persoalan. Seperti anda ketahui bahwa Umar pernah meminta pendapatnya tentang keinginannya untuk berangkat sendiri memimpin pasukan guna memerangi orang-orang persia. Kemudian Ali menasehatinya dengan suatu nasehat yang mencerminkan kecintaannya kepada Umar. Ali menasehatinya supaya tidak berangkat tetapi cukup dengan menggerakan roda peperangan dengan orang-orang Arab yang ada di bawah kekuasaannya. Diperingatkannya, jia ia berangkat niscaya akan menimbulkan berbagai peluang yang lebih berbahaya dari pada musuh yang akan dihadapinya itu sendiri.
Seandainya Rasulullah saw telah mengumumkan bahwa Khilafah sesudahnya harus diserahkan kepada Ali ra, apakah mungkin Ali ra akan berpaling dari perintah Rasulullah tersebut dan mendukung orang-orang yang merampas haknya atau merampok kewajibannya dalam memegang Khilafah dengan dukungan kerjasama yang demikian ikhlas dan konstruktif ? mungkinkah seluruh sahabat Nabi saw akan mengabaikan perintah Rasululah saw tersebut ? Mungkinkah semua sahabat itu telah bersepakat terutama Ali untuk tidak melaksankaan perintah Rasulullah tersebut ?
Keempat,
Sebagaimana Khilafah Abu Bakar ra datang pada saat yang tepat, dimana tidak layak pada saat itu kecuali Abu Bakar, demikian pula Khilafah Umar. Beliau menjadi orang yang paling tepat untuk memegang Khilafah pada saat itu. Di antara hal ynag paling mulia yang pernah dilakukan Abu Bakar ialah mengokohkan kemblai Islam sebagaibangunan dalam negara, dan keykainan di dlaam jiwa. Setelah terjadinya keguncangan menyusul kematian Rasulullah saw. Sedangkan hal yang palng agung yang pernah dilakukan Umar ialah memperluas futuhat Islamiyah ke ujung negeri-negeri Persia, Syam, dan Maghrib (maroko). Membangun negeri-negeri Islam, membentuk berbagai Diwan, dan mengokohkan pilar-pilar negara Islam sebagai negara peradaban yang paling kuat di permukaan bumi.
Ini menunjukkan sejauh mana hikmah Allah dalam memelihara para hambah-Nya dan mewujudkan sarana kebaikan dan kebahagiaan bagi mereka dalam kehidupan pribadi dan sosial.
Kelima,
Kami mengatakan tentang cara pemilihan Khalifah Ustman sebagai yang telah kami katakan tentang Khilafah Umar. Menunjuk seorang pengganti dalam kekhalifahan merupakan proses yang ditempuh untuk Khilafah Umar dan Ustman. Perbedaan antara keduanya, bahwa Abu Bakar menunjuk Umar secara langsung, sedangkan Umar menunjuk seorang penggantinya diantara enam orang ynag menjadi anggota Majelis Syura kemudian menyerahkan pemilihannya kepada kaum Muslimin.
Seperti telah anda ketahui, pemilihan Ustman di antara enam orang yang diajukan tersebut, berlangsung dengan musyawarah dari keenam orang itu sendiri, kemudian dengan musyarawah dan baiat dari kaum Muslimin atau Ahlul Halli wal Aqdi. Ali ra adalah termasuk seorang diantar enam orang yang ditunjuk dan merupakan orang ynag pertama kali membaiat Ustman ra.
Dengan demikian kita mengetahui secara gamblang bahwa kaum Muslimin sampai periode ini, bahkan sampai akhir pemerintahan Ali, masih merupakan satu Jama‘ah. Tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang mempermasalahkan urusan Khilafah atau mempertanyakan siapakah orang ynag paling berhak memegangnya ? Yang ada hanyalah proses musyawarah dan pembahasan dalam setiap tuntutan untuk memlih Khilafah secara syari‘ah dan sehat.
Betapapun usaha ang anda kerahkan, sesungguhnya anda tidak akan dapat menemukan pada seluruh periode ini (Khilafah Abu Bakar, usmar, dan Ustman), adanya perdebatan atau diskusi tentang apakah al-Quran atau Rasulullah saw telah menunjuk secara tegas seorang Khalifah sesudah Rasulullah saw ataukah tidak. Pun tidak akan anda temukan kritik atau tindakan menyalahkan carta yang ditempuh dalam proses pengangkatan ketiga Khalifah tersebut.
Lalu, kapan dan atas dorongan apa terjadinya perpecahan yang telah memcah belah Jama‘ah Muslimin menjadi dua kubuh yang bertentangan karena masalah Khilafah, padahal selama tiga periode Khilafah mereka hidup bersatu dan bekerja sama secra rapih ? Masalah ini akan kamise butkan tatkala membahas Khilafah Ali ra dan peristiwa peristiwa ynag terjadi pada masa beliau.

Khilafah Ustman Bin Affan

Pada tahun pertama dari Khilafah Ustman, yaitu tahun 24 Hijri negeri Rayyi berhasil ditaklukan. Sebelumnya, negeri ini pernah ditaklukan tetapi kemudian dibatalkan. Pada tahuny ang sama berjangkit wabah demam berdarah yang menimpa banyak orang. Khalifah Ustman sendiri terkena sehingga beliau tidka dapat menunaikan ibadah Haji. Pada tahun ini Ustman mengangkat SA‘ad bin Abi Waqash menjadi gurbernur Kufah menggantikan Mughirah bin Syu‘bah.
Di tahun 35 Hijri Ustman memecat Sa‘ad bin Abi Waqash dari jabatannya gurbernur sebagai gantinya diangkatlah Walid bin Uqbah bin Abi Mu‘ith seorang sahabi dan saudara seibu dengan Ustman. Inilah sebab pertama dituduhnya Ustman melakukan nepotisme.
Pada tahun 26 Hijri, Ustman melakukan perluasan Masjidil Haram dengan membeli sejumlah tempat dari para pemiliknya lalu disatukan dengan masjid. Pada tahun 27 Hijri Mu‘awwiyah melancarkan serangan ke Qubrus (Siprus) dengan membawa pasukannya menyeberangi lautan. Diantara pasukan ini terdapat Ubadah bin Shamit dan istrinya, Ummu Haram binti Milham al Anshariyah. Dalam perjalanan Ummu Haram jatuh dari kendaraannya kemudian syahid dan dikuburkan disana. Nabi saw pernah memberitahukan kepada Ummu haram tentang pasukan ini seraya berdo‘a agar Ummu Haram menjadi salah seorang dari anggota pasukan ini.
Pada tahun ini Ustman menurunkan Amru bin Al Ash dari jabatan Gurbernur Mesir dan sebagai gantinya diangkat Abdullah bin Sa‘Ad bin Abi Sarh. Kemudian dia menyyerbut Afrika dan berhasil menaklukkannya dengan mudah. Di tahun ini pula Andalusia berhasil ditaklukan.
Tahun ke 29 Hijri negeri-negeri lain berhasil ditaklukan. Pada tahun ini Ustman memperluas Masjidil Madinah Munawarrah dan membangunnya dengna batu-batu berukir. Ia membuat tiangnya dari batu dan atapnya dari kayu (tatal). Panjangnya 160 depa dan luasnya 150 depa.
Negeri-negeri Khurasan ditaklukan pada tahun 30 Hijri sehingga banyak terkumpul kharaj (infaq penghasilan) dan harta dari berbagai penjuru. Allah memberikan karunia ynag melinpah dari semua negeri kepada kaum Muslimin.
Pada tahun 32 Hijri Abbas bin Abdul Muthalib, Abdur Rahman bin Auf, Abdullah bin Mas‘Ud dan Abu Darda wafat. Orang-orang yang pernah menjabat sebagai Hakim negeri Syam sampai saat itu ialah Mu‘awwiyah, Abu Dzarr bin Jundab bin Junadah al Ghiffari dan Zaid bin Abdullah ra. Pda tahun ke 33 Hijri Abdullah bin Mas‘ud bin Abi Sarh menyerbu Habasyah.
Seperti diketahui, Ustman ra mengangkat para kerabatnya dari Banu Umaiyah menduduki berbagai jabatan. Kebijaksanaan ini mengakibatkan dipecatnya sejumlah sahabat dari berbagai jabatan mereka dan digantikan oleh orang-orang ynag diutamakan dari kerabatnya. Kebijksanaan ini mengakibatkan rasa tidak senang orang banyak terhadap ustman. Hal inilah yang dijadikan pemicu dan sandaran utama oleh orang Yahudi Abdullah bin Saba‘ dan teman-temannya untuk membangkitkan fitnah.
Ibnu Katsir meriwayatkan. Penduduk Kufah umumnya melakukan pemberontakan dan konspirasi terhadap Sa‘id bin Al Ash, Amir Kufah. Kemudian mereka mengirimkan utusan kepada Ustman guna menggugat kebijaksanananya dan alasan pemecatan sejumlah besar para sahbat yang kemudian digantikan oleh sejumlah orang dari Banu Umaiyah. Dalam pertemuan ini, utusan tersebut berbicara kepada Ustman dengan bahasa ynag kasar sekali sehingga membuat dada Ustman sesak. Beliau lalu memanggil semua Amir pasukan untuk diminta pendapatnya.
Maka berkumpullah di dahapannya Mu‘awwiyah bin Abu Sofyan Amir negeri Syam, Amer bin al Ash Amir negeri Mesir, Abdullah bin Sa‘ad bin Abi Sarh Amir negeri Maghribi, Sa‘ad bin al Ash amer negeri Kufah dan Abdullah bin Amir amer negeri Basra.
Kepada mereka Ustman meminta pandangan mengenai peristiwa yang terjadi dan perpecahan yang muncul. Kemudian masing-masing dari mereka mengemukakan pendapat dan pandangannya. Setelah mendengar berbagai pandangan dan mendiskusikannya, akhirna Ustman memutuskan untuk tidak melakukan penggantian para gurbernur dan pembantunya. Kepada masing-masing mereka, Ustman memerintahkan agar menjinakan hati para pemberontak dan pembangkang tersebut dengan memberi harta dan mengirim mereka ke medan peperangan lain dan pos-pos perbatasan.
Setelah peristiwa ini, Di Mesir muncul satu kelompok dari anak-anak para sahabat. Mereka menggerakkan massa untuk menentang Ustman dan mengguggat sebagian besar tindakannya. Kelompok ini melakukan tindakan tersebut tentu setelah Abdullah bin Saba‘ berhasil menghasut sekitar 600 orang untuk berangkt ke Madinah dengan berkedok melakukan ibadah umrah. Ttepi sebenarnya mereka bertujuan untuk menyebarkan fitnah dalam masyarakat Madinah. Tatkala mereka hampir memasuki Madinah, Ustman mengutus Ali untuk menemui mereka dan berbicara kepada mereka. Kemudian Ali berangkat menemui mereka di Juhfah. Mereka ini mengaungkan Ali dengan sangat berlebihan, karena Abudllah bin Saba‘ telah berhasil mempermainakn akal pikiran mereka dengan berbagai kurafat dan penyimpangan. Tetapi setelah Ali ra membantah semua penyimpangan pemikiran yang sesat itu, mereka menyesali diri seraya berkata :“Orang inikah yang kalian jadikan seagai sebab dan dalih untuk memerangi dan memprotes Khalifah (Ustman)?“ Kemudian mereka kembali dengan membawa
kegagalan.
Ketika menghadap Ustman, Ali melaporkan kepulangan mereka dan mengusulkan agar Ustman menyampaikan pidato kepada orang banyak guna meminta ma‘af atas tindakannya mengutamakan sebagian kerabatnya dan bahwaia bertaubat dari tindakan tersebut. Usulan ini diterima oleh Ustman, kemudian Ustman berpidato di hadpaan orangbanyak pada hari Jum‘at. Dalam pidato ini diantaranya Ustman mengatakan :“Ya Allah aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu. Ya Allah , aku adlah orang yang pertama kali bertaubat dari apa yang telah aku lakukan.“
Pernyataan ini diucapkan sambil menangis sehingga membuat orang ikut menangis. Kemudian Ustman menegaskan kembali baha ia akan menghentikan kebijakan yang menyebabkan timbulkan protes tersebut. Ditegaskannya baha ia memecat Marwan dan kerabatnya.
Tetapi setelah penegasan tersebut Marwan bin Hakam menemui Ustman. Dia menghamburkan kecaman dan protes. Kemudian berkata :“Andaikan ucapanmu itu engkau ucapkan pada waktu engkau masih sangat kuat, niscaya aku adalah orang yang pertama-tama meneriman dan mendukunya, tetapi engkau mengucapkan ketika banjir bah telah mencapai puncak gunung. Demi Allah , melakukan suatu kesalahan kemudian meminta ampunan darinya adalah lebih baik darirapa taubat karena takut kepadanya. Jika suka, engkau dapat melakukan taubat tanpa menyatakan kesalahan kami.“
Kemudian Marwan memberitahukan kepadanya bahwa di balik pintu ada segerombolan orang. Ustman menunjuk Marwan berbicara kepda mereka sesukanya. Marwan lalu berbicara kepda mereka dengan suatu pembicaraan yang buruk sehingga merusak apa yang selama ini diperbaiki oleh Ustman. Dalam pembicaraan nya, Marwan berkata :“Kalain datang untuk merebut kerajaan dari tangan kami, Keluarlah kaian dari sisi kami, Demi Allah, jika kalian membangkang kepada kami niscaya kalian akan menghadapi kesulitan dan tidak akan menyukai akibatnya.“
Setelah mengetahui hal ini, Ali segera datang menemui Ustman dan dengan nada marah ia berkata :“Kenapa engkau meridhai Marwan sementara dia tidak menghendaki kecuali memalingkan engkau dari agama dan pikiranmu?“ Demi Allah, Marwan adalah orang yang tidak layak dimintai pendapat tentang agama atau dirinya sekalipun. Demi Allah, aku melihta bahwa dia akan mendhadirkan kamu kemudian tidak akan mengembalikan kamu lagi. Saya tidak akan kembali setelah ini karena teguranku kepadamu.“
Setelah Ali keluar, Na‘ilah masuk menemui Ustman (ia telah mendengarkan apa yang diucapkan Ali kepada Ustman) kemudian berkata :“Aku harus bicara atau diam.?“ Ustman menjawab : Bicaralah!“ Na‘ilah berkata :“Aku telah mendengar ucapan Ali bahwa dia tidak akan kembali lagi kepadamu karena engkau telah mentaati Marwan dalam segala apa yang dikehendakinya.“ Ustman berkata :“Berilah pendapatmu kepadaku:“ Na‘ilah memberikan pendapatnya.“ Bertaqwalah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Ikutilah Sunnah kedua sahabatmu yang terdahulu (Abu Bakar dan Umar). Sebab jika engkau mentaati orang yang tidak memiliki harga di sisi Allah, apalagi rasa takut dan cinta. Utuslah seseorang menemu Ali guna meminta islahnya, karena dia memiliki kekerabatan denganmu dan tidak layang ditentang.“
Kemudian Ustman mengutus seseorang kepada Ali, tetapi Ali menolak datang. Dia berkata :“Aku telah memberitahukan kepadanya bahwa aku tidak akan kembali lagi.“ Sikap ini merupakan permulaan krisis yang menyulut api fitnah dan memberikan peluang bagi tukang fitnah untuk memperbanyak kayu bakarnya dan mencapai tujuan-tujuan busuk yang mereka inginkan.
Awal Fitnah dan Pembunuhan Ustman.
Ustman menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun. Tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan celah untukmendendamnya. Bahkan beliau lecih dicintai oleh orangorang Quraisy umumnya tinimbang Umar. Karena Umar bersikap keras terhadap mereka, sedangkan Ustman bersikap lemah lembut dan sellau menjalin hubungan dengan mereka. Tetapi masyarakat mulai berubah sikap terhadapnya, sebagaimana telah kami sebutkan. Kebijaksanaan ini dilakukan Ustman atas pertimbangan shilaturrahim yang merupakan salah satu perintah Allah. Namun kebijaksanaan ini apda akhirnya menjadi sebab pembunuhannya.
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Az Zuhri, ia berkata :“Aku pernah berkata kepada Sa‘id bin Musayyab :“Ceritakanlah kepadaku tentang pembunuhan Ustman?“ Bagaimana hal ini sampai tejradi .“ Ibnul Musayyab berkata : „Ustman dibunuh secara aniaya. Pembunuhnya adalah zhalim dan pengkhianatnya adalah orang yang memerlukan ampunan.“ Kemudian Ibnul Musayyab menceritakan kepada Az Zuhri tentang sebab pembunuhannya dan bagaima hal itu dilakukan. Kami sebutkan di sini secara singkat.
Para penduduk Mesir datang mengadukan Ibnu Abi Sarh. Setelah pengaduan ini, Ustman menulis surat kepadanya yang berisikan nasehat dan peringatan terhadapnya. Tetapi Abu Sarh tidak mau menerima peringatan Ustman bahkan mengambil tindakan keras terhadpa orang yang mengadukannya.
Kemudian para tokoh sahabat, seperti Ali , Thalhah dan Aisya, mengusulkan agar Ustman memecat Ibnu Abi Sarh dan menggantikannya dengan orang lain. Llau Ustman berkata kepada mereka :“Pilihlah orang yang dapat menggantikannya.“ Mereka mengusulkan Muhammad bin Abu Bakar. Kemudian Ustman menginstruksikan hal tersebut dan emngangkat secara resmi. Surat keputusan ini kemudian dibawah oleh sejumlah sahabat ke Mesir. Tetapi baru tiga hari perjalanan dari madinah , tiba-tiba merka bertemu dengan seorang pemuda hitam berkendaraan onta yang berjalan maju mundur.
Kemudian para sahabat Rasulullah itu menghentikannya seraya berkata : “Kamu ini kenapa, kamu terlihat seperti orang lari atau mencari sesuatu?“ Ia menjawab :“Saya adalah pembantu Amirul Mukminin yang diutus untuk menemui gurbernur Mesir?“ Ketika ditanya :“utusan siapa kamu ini?“ Dengan gagap dan ragu-ragu ia kadang-kadang menjawab :“Saya pembantu Amirul Mukminin“ dan kadang-kadang pula ia jawab :“Saya pembantu Marwan“. Kemudian mereka mengeluarkan sebuah surat dari barang bawannya. Di hadapan dan saksikan oleh para sahabat dari Anshar dan Muhajirin tersebut, Muhammad bin Abu Bakar membuka surat tersebut, yang ternyata isinya :“Jika Muhammad beserta si fulan dan si fulan datang kepadamu maka bunuhlah mereka dan batalkanlah suratnya. Dan tetaplah engkau melakukan tugasmu sampai engkau menerima keputusanku. Aku menahan orang yang akan datang kepadamu mengadukan dirimu.“
Akhirnya para sahabat itu kembali ke Madinah dengan membawa surat tersebut. Kemudian mereka mengumpulkan para tokoh sahabat dan memberitahukan ihwal surat dan kisah utusan tersebut. Peristiwa ini membuat seluruh penduduk Madinah gempar dan benci terhadap ustman. Setelah melihat ini, Ali ra segera memanggil beberapa tokoh shabat antara lain Thalhah, Zubair, Sa‘ad dan Ammar. Bersma mereka ali dengan membawa surat, pembantu, dan onta tersebut masuk menemui Ustman. Ali bertanya kepada Ustman :“Pemuda ini apakah pembantumu?“ Ustman menjawab:“Ya“. Ali bertanya lagi :“Onta ini apakah ontamu?“ Ustman menjawab :“Ya“. Ali bertanya lagi :“Apakah kamu pernah menulis surat ini?“ Ustman menjawab :“Tidak“. Kemudian Ustman bersumpah dengna nama Allah bahwa :“Aku tidak pernah menulis surat tersebut, tidak pernah memerintahkan penulisan surat dan tidak mengetahui ihwal surat tersebut.“ Ali bertanya lagi :“Stempel ini apakah stempelmu?“ Ustman menjawab :“Ya“. Ali bertanya lagi :““Bagaimana pembantumu ini bisa keluar dengan menunggang ontamu dan membawa surat yang distempel dengen stempelmu sedangkan engkau tidak mengetahuinya?“ Kemudian Ustman bersumpah dengan nama Allah :“Aku tidak pernah menulis surat ini, tidak pernah memerintahkannya, dan tidak pernah pula mengutus pembantu ini ke Mesir.“
Kemudian mereka memeriksa tulisan surat tersebut dan mengetahui bahwa surat ini ditulis oleh marwan. Lalu mereka meinta kepada Ustman agar menyerahkan Marwan kepada mereka tetepi ustman tidak bersedia melakukannya, padahal Marwan saat itu berada di dalam rumahna. Akhirnya orang-orang keluar dari rumah Ustman dengan perasaan marah. Mereka mengetahui bahwa Ustman tidak berdusta dalam bersumpah, tetapi mereka marah karena dia tidak bersedia menyerahkan Marwan kepada mereka. Maka tersiarlah berita tersebut di seantero Madinah, sehingga sebagian masyarakat mengepung rumah Ustman dan tidak memberikan air kepadanya. Setelah Ustman dan kelaurganya merasakan kepayahan akibat terputusnya air, ia menemui mereka seraya berkata :“Adakah seseorang yang sudi memberihatu Ali agar memberi air kepada kami?“ Setelah mendengar berita ini. Ali segera mengirim tiga qirbah air, Kirimian air ini pun sampai kepada Ustman melalui cara yang sulit sekali.
Dalam pada itu Ali mendengar deas-desus tentang adanya orang yang ingin membunuh Ustman, lalu ia berkata :“Yang kita inginkan darinya adalah Marwan, bukan pembunuhan ustman“. Kemudian Ali berkata kepada Hasan dan Husain : „Pergilah dengan membawa pedang kalian untuk menjaga pintu rumah Ustman. Jangan biarkan seorang pun masuk kepadanya.“ Hal ini juga dilakukanoleh sejumlah sahabat Rasulullah saw , demi menjaga Ustman. Ketika para pengacau menyebru pintu rumah Utsman ingin masuk dan membunuhnya , mereka dihentikan oleh Hasan dan Husain serta sebagian sahabat.
Sejak itu mereka mengepung rumah Utsman lebih ketat dan secara sembunyisembunyi berhasil masuk dari atap rumah. Mereka berhasil menebaskan pedang sehingga Khalifah Utsman terbunuh. Ketika mendengar berita ini, Ali datang dengan wajah marah seraya berkata kepada dua orang anaknya ,“Bagaimana Amirul Mukminin bisa dibunuh sedangkan kalian berdiri menjada pintu?“ Kemudian Ali menampar Hasan dan memukul dada Husain serta mengecam Muhammad bin Thalhah dan Abdullah bin Zubair.
Demikianlah, pembunuh Utsman merupakan pintu dari matarantai fitnah yang terus membentang tanpa akhir.
Pembaiatan Ali dan Mencari Pembunuh Utsman.
Ali keluar dari Utsman dengan penuh kemarahan terhadap peristiwa yang terjadi, sementara tu orang-orang berlarian kecil mendatangi Ali seraya berkata :“Kita harus mengangkat Amir, ulurkanlah tanganmu,kami baiat „ Ali menjawab : Urusan ini bukan hak kalian, tetapi hak para pejuang Badr. Siapa yang disetujui oleh para pejuang Badr maka dialah yang berhak menjadi Khalifah.“ Kemudian tidak seorangpun dari para pejuang Badr kecuali telah mendatangi Ali seraya berkata :“Kami tidak melihat adanya orang yang lebih berhak menjabat sebagai Khalifah selain daripadamu. Ulurkanlah tanganmu kami baiat.” LaLu mereka membaiatnya.
Belum selesari pengangkatan dan pembaiatan Ali sebagai Khalifah. Marwan dan anaknya telah melarikan diri. Ali datang kepda istri Utsman menanyakan tentang para pembunuh Utsman. Istri Utsman menjawab :“Saya tidak tahu, Ada dua orang ynag masuk kepada Utsman beserta Muhammad bin Abu Bakar“. Kemudian Ali menemui Muhammad bin Abu Bakar, menanyakan tentang apa yang dikatakan oleh istri Utsman tersebut. Muhammad menjawab :“Istri Utsman tidak berdusta. Demi Allah, tadinya auk masuk kepadanya dengan tujuan ingin membunuhnya tetapi kemudian aku teringat pada ayahku sehingga aku membatalkannya. Aku bertaubat kepada Allah. Demi Allah, aku tidak membunuhnya, bahkan aku tidak menyentuhnya“, istri Utsman menyahut : “Dia benar, tetapi dialah yang memasukkan kedua orang tersebut.“
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Kinanah, mantan budak Shafiah, dan lainnya. Mereka berkata :“Utsman dibunuh oleh seorang lelaki dari Mesir berkulit biru kecoklatan.“
Ibnu Asakir juga meriwayatkan dari Abu Tsaur AL Fahmi, ia berkata : „Aku pernah masuk kepada Utsman ketika sedang dikepung lalu beliau berkata:“Aku telah bersembunyi di sisi Rabb-ku selama 10 hari. Sesungguhnya aku adalah orang yang keempat yang pertama kali Islam. Aku juga pernah membekali pasukan yang tengah menghadapi kesulitan (Jaisyul Usrah). Kepadaku Rasulullah saw pernah menikahkan anak perempuan beliau, kemudian ia meninggal dan dinikahkan lagi dengan anak perempuannya yang lain. Tidaklah pernah lewat satu Jum‘at semenjak aku masuk Islam kecuali pada hari ini aku memerdekakan budak. Manakala aku memiliki sesuatau untuk memerdekakannya. Aku tidak pernah berzina di masa Jahiliyah apalagi di masa Islam, Aku tidak pernah mencuri di masa Jahiliyah apalagi di masa Islam. Aku juga tidak pernah menghimpun al-Quran di masa Rasululah saw.“
Menurut riwayat yang shahih, Khalifah Utsman dibunuh pada pertengahan hari tasriq tahun ke 35-Hijri.
Beberapa Ibrah.
Pertama,
Diantara keutamaan dan keistimewaan yang dapat dicatat periode pemerintahan Utsman ialah banyaknya penaklukan dan perluasan. Pada peride ini, seluruh Khurasan berhasil ditaklukkan. Demikian pula Afrika sampai Andalusia. Disamping itu tercatat pula sejumlah prestasi mulian yang agung yang pernah dilakuan Utsman sampai menyatukan orang dalam bacaan dan tulisan al-Quran yang terpercaya setelah berkembangnya berbagai macam bacaan yang dikhawatirkan dapat membingungkan orang. Juga seperti prestainya memperluas Masjid Nabawi di Madinah Munawarah.
Tidaklah merusak kemuliaan Utsman jika dalam berbagai penaklukan ia memperunakan Abdullah bin Sa‘ad bin Abi Sarh dan orang-orang semisalnya, karena Islam menghapuskan semua dosa sebelumnya. Barangkali Ibnu Sarh dengan amalamalnya yang mulia ini telah menghapuskan segala yang pernah dilakukannya sebelumnya. Bahkan seperti diketahui, ia tetap di jalan lurus setelah itu dan termasuk orang yang tetap baik agamanya.
Kedua,
Betatapun kritiky ang dilontarkan kepada Utsman, karena kebijaksanaannya dalam memilih para gurbernur dan pembantunya, dari kaum kerabatnya (Banu Umaiyah) kita harus menyadari bahwa kebijaksanaan tersebut adalah merupakan ijtihad pribadinya. Bahkan Utsman telah mempertahankan pendapat tersebut dihadapan sejumlah besar para sahabatnya. Betapapun sikap kita terhadap pendapat dan pembelaan tersebut, namun sewaktu mengkritik, kita tidak boleh melanggar adab dalam melontarkan analisa atau pendapat. Juga kesalahan yang dilakukannya tersebut- jika hal itu kita anggap sebagai suatu kesalahan jangan sampai melupakan kita pada kedudukannya yang mulia di sisi Rasulullah saw, keutamaannya sebagai generasi pertama dalam Islam, dan sabda Rasulullah saw kepadanya pada perang Tabuk : “Tidak akan membahayakan Utsman apa yang dilakukan setelah hari ini.“
Hendaknya kita pun menyadari bahwa pembicaraan dan sanggahan para sahabat terhadap kebijaksanaannya saat itu tidak sama dengan kritik dan gugatan yang kita lakukan sekarang terhadap masalah yang sama. Sanggahan para sahabat terhadapnya, pada saat itu, merupakan pemecahan bagi suatu permasalahan yang ada dan mungkin dapat dirubah atau diperbaiki. Segala pembicaraan di saat itu, sekalipun bermotivasi kritik dan menyalahkan, merupakan tindakan positiv dan bermanfaaat. Sedangkan pembicaran kita pada hari ini, setelah masalah tersebut menjadi suatu peristiwa sejarah, hanyalah merupakan tindakan kurang jar terhadap para saahabt yang telah diberikan pujian oleh Rasulullah saw. Beliau melarang kita bersikap tidak sopan kepada mereka, terutama Khilafah Rasyidin.
Barang siapa yang menginginkan amanah ilmiah dalam mengemukakan peristiwa ini cukuplah dengan berpegang teguh kepada penjelasan yang dikemukakan oleh para penulis dan para ahli sejarah yang terpercaya seperti Thabari, Ibnu Katsir dan Ibnu Atsir.
Ketiga,
Bersamaan dengan munculnya benih-benuh fitnah pada akhir-akhir pemerintahan Utsman muncul pula nama Abdullah bin Saba‘ di pentas sejarah. Peranan Ibnu Saba sangat menonjol dalam mengobarkan api fitnah ini. Abdullah bin Saba‘ adalah seorang Yahudi berasal dari Yaman. Ia datang ke Mesir pada masa pemerintahan Utsman dengan dalih mencintai Ali dan keluarga (ahlul bait) Nabi saw. Dialah yang mengatakan kepada orang-orang :“Tidakkan Muhammad lebih baik dari Isa di sisi Allah?“ Jika demikian halnya maka Muhammad lebih berhak kembali kepada manusia daripada Isla. Tetapi Muhammad akan kembali kepada mereka dalam diri anak pamannya, Ali , yang merupakan orang terdekat kepadanya.“
Dengan khurafat ini Abdullah bin Saba‘ berhasil menipu masyarakat Mesir, padahal sebelumnya ia gagal mendapatkan pengikut di Yaman. Orang-orang yang tertipu oleh perkataan inilah yang berangkat ke Madinah guna memberontak kepada Utsman. Tetapi kemudian mereka berhasil dihalau oleh Ali, sebagaimana telah anda ketahui. Dari sini kita mengetahui bahwa kelahiran perpecahan ummar Islam menjadi dua kubuh Sunnih dan Syi‘ah, dimulai pada periode ini. Perpecahan ini sepenuhnya merupakan buah tangan Abdullah bin Saba‘. Belum lagi penyiksaan dan kezhaliman yang dialami oleh Ahlul Bait atau Syi‘ah mereka di tangan pemerintahakn Umawiah dan lainnya. Yang penting , betatapun kedua peristiwa ini telah masuk dalam catatan sejarah, tetapi kita tidak boleh melupakan realita lainnya.
Keempat,
Sekali lagi, kita harus mendapatkan kejelasan tentang hakekat hubungan yang berlangsung antara Utsman dan Ali selama periode Khilafah yang ketiga ini, Juga hakekat sikap yang diambil Ali terhadap Utsman ra. Seperti anda ketahui, bahwa Ali segera membaiat Utsman sebagai Khalifah, bakan menurut kebanyakan ahli sjearah, sebagaimana dikatkaan oleh Ibnu Katsir bahwa Ali adalah orang ynag pertama kali membaiat Utsman. Kemudian anda ketahui bagaimana Ali mengatakan kepada utsman ketika ia mendengar segerombolan orang yang dikerahkan oleh Abdullah bin Saba‘ ke Madinah untuk mengerakan orang menentang Utsman :“Aku bereskan kejahatan mereka!“ Kemudian Ali berangkat dan menemui mereka di Juhfah sampai berhasil menghalau mereka dan kembali ke Mesir seraya mengatakan :“Inikah orang yang kalian jadikan sebab dan dalih untuk memerangi dan memprotes Khalifah (Utsman)?“ Anda telah mengetahui bagaimana Ali dengan penuh keikhlasan, kecintaan dan ghirah yang jujur dan memberikan nasehat kepadanya.
Sebagaimana anda ketahui pula Ali berpihak membelanya sampai akhir hayatnya , bagaimana ia memobolisir kedua putranya Hasan dan Husain untuk menjaga Utsman dari ulah orang-orang yang mengepungnya ?“ Dengan demikian Ali merupakan pendukung Utsman yang terbaik selama Khilafahnya, di samping merupakan pembela terbaiknya tatkala menghadapi cobaan berat. Ia bersikap tegas dan keras dalam memberikan nasehat kepadanya di belakang hari, tidak lain dan tidak bukan hanyalah karena cinta dan ghirah kepadanya.
Hendaknya anda memahami hal ini dengan baik, agar anda juga mengetahui bahwa orang besar seperti Ali patut diteladani oleh setiap orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukti cinta hanyalah shidqul ittiba‘ (mengikuti secara jujur) dan istiqomah dalam meneladai. Itulah sirah Ali ra terhadap para Khalifah sebelumnya. Marilah kita dan bukti paling nyata yang mengungkapkan cinta sejati kita kepada beliau.